Topikseru.com, Jakarta - Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menyebut dugaan kelelahan emosional atau burnout bisa menjadi salah satu faktor di balik tindakan oknum tenaga kesehatan (nakes) menghina pasien BPJS menuai respons dari dokter sekaligus konten kreator kesehatan, Dokter Tirta.Menurut Dokter Tirta, kondisi burnout tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan yang dinilai merendahkan pasien di ruang publik, khususnya melalui media sosial.Dia menegaskan, persoalan utama dalam kasus tersebut bukan terletak pada tekanan kerja yang dialami tenaga kesehatan, melainkan pada cara oknum nakes merespons keluhan pasien."Burnout bukan alasan untuk menghina pasien," tegas Dokter Tirta dalam tanggapannya yang beredar di media sosial.Soroti Cara Oknum Nakes Merespons Keluhan PasienDokter Tirta menilai kasus yang ramai diperbincangkan bermula dari seorang pasien BPJS yang menyampaikan pengalaman dan keluhannya melalui media sosial. Namun, unggahan tersebut justru mendapat respons negatif dari sejumlah oknum tenaga kesehatan.Menurutnya, respons tersebut tidak mencerminkan sikap profesional yang seharusnya dimiliki tenaga medis maupun tenaga kesehatan.Dia menegaskan, apabila seseorang belum mengetahui secara utuh duduk persoalan yang dialami pasien, sebaiknya tidak terburu-buru memberikan komentar yang berpotensi memperkeruh keadaan."Kalau tidak tahu latar belakang masalahnya, ya tahan jari untuk tidak berkomentar," ujarnya.Burnout Tidak Boleh Dijadikan PembenaranDokter Tirta juga menolak anggapan bahwa kelelahan emosional akibat beban pekerjaan dapat menjadi alasan seseorang melontarkan penghinaan kepada pasien.Menurut dia, hampir seluruh profesi menghadapi tekanan kerja dan risiko mengalami burnout. Namun, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan tindakan yang melanggar etika maupun merugikan pihak lain.Ia mengingatkan bahwa tenaga kesehatan tetap dituntut menjaga profesionalisme, termasuk ketika berinteraksi di ruang digital.Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk tidak mencari pembenaran atas tindakan oknum nakes yang dianggap tidak pantas, melainkan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi agar komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien dapat berlangsung lebih baik.Etika Bermedia Sosial Jadi SorotanPolemik ini kembali memunculkan pembahasan mengenai pentingnya etika penggunaan media sosial oleh tenaga kesehatan.Di tengah meningkatnya penggunaan platform digital sebagai ruang menyampaikan keluhan maupun berbagi pengalaman pelayanan kesehatan, komunikasi yang profesional dinilai menjadi kunci menjaga kepercayaan publik terhadap layanan medis.Kasus tersebut juga memicu diskusi luas mengenai perlunya empati, kemampuan mengelola emosi, serta penyampaian kritik maupun tanggapan secara proporsional agar tidak menimbulkan konflik yang lebih besar di ruang publik.Hingga kini, perdebatan mengenai unggahan tersebut masih menjadi perhatian masyarakat dan warganet. Berbagai pihak berharap kejadian serupa dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk mengedepankan etika, profesionalisme, dan komunikasi yang saling menghormati.