Topikseru.com - Persaingan kepentingan Amerika Serikat dan China di Venezuela memasuki babak baru. Beijing mulai menegaskan perlindungan atas kepentingan ekonominya di sektor minyak Venezuela setelah Washington mengumumkan kesepakatan energi besar dengan negara Amerika Latin tersebut.Pemerintah China menyatakan kerja sama yang telah dibangun dengan Venezuela harus tetap dihormati. Beijing menegaskan hak dan kepentingan sah perusahaan China di negara tersebut tidak boleh diabaikan akibat kesepakatan baru antara Venezuela dan Amerika Serikat.Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan sikap tersebut dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (1/9/2026)."Kami mengetahui soal kesepakatan tersebut. Saya ingin menekankan bahwa kerja sama China-Venezuela dilindungi oleh hukum internasional dan hukum kedua negara. Hak dan kepentingan sah China di Venezuela harus dilindungi," kata Guo.Pernyataan Beijing muncul setelah Gedung Putih mempublikasikan rincian kesepakatan minyak Amerika Serikat dengan Venezuela pada 31 Agustus 2026.AS Dapat Akses ke 65 Miliar BarelDalam kesepakatan tersebut, otoritas sementara Venezuela memberikan North American Blue Energy Partners (NABEP) konsesi selama 100 tahun untuk mengelola 17 ladang minyak.Ladang-ladang tersebut memiliki cadangan terbukti sekitar 65 miliar barel. Gedung Putih menyebut kesepakatan itu memberi Amerika Serikat kontrol mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela.NABEP merupakan perusahaan minyak swasta asal Venezuela yang disebut sebagai salah satu produsen minyak swasta terbesar di negara tersebut.Kesepakatan itu memberikan pemerintah AS hak atas 35 persen saham di perusahaan induk NABEP melalui Office of Strategic Capital. Washington juga memperoleh hak untuk membeli 20 persen produksi minyak dari ladang yang dioperasikan NABEP dengan harga setara biaya produksi.Untuk 80 persen produksi lainnya, pemerintah AS memiliki hak penawaran pertama atau right of first refusal.Selain hak ekonomi, Washington memperoleh pengaruh dalam tata kelola perusahaan. Pemerintah AS memiliki hak veto terhadap penunjukan anggota dewan direksi NABEP, sementara mayoritas anggota dewan diwajibkan merupakan warga negara Amerika Serikat.Kesepakatan tersebut juga tunduk pada hukum AS dan yurisdiksi pengadilan Amerika Serikat.China Khawatir Kepentingannya TergerusMasuknya kepentingan AS dalam pengelolaan ladang minyak Venezuela menjadi perhatian Beijing karena China selama bertahun-tahun telah membangun posisi ekonomi di sektor energi negara tersebut.Kementerian Luar Negeri China menegaskan kerja sama ekonomi dan perdagangan antarnegara seharusnya berjalan berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menguntungkan, serta sesuai dengan tujuan dan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.Guo juga menekankan bahwa kerja sama China-Venezuela memiliki perlindungan hukum internasional dan hukum kedua negara.Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Beijing ingin memastikan investasi dan kepentingan perusahaan China tetap memiliki dasar hukum meskipun struktur pengelolaan minyak Venezuela mengalami perubahan besar.Laporan mengenai kesepakatan AS menyebut sejumlah ladang yang masuk dalam skema baru sebelumnya memiliki keterkaitan dengan perusahaan China dan Rusia. Reuters juga melaporkan kesepakatan tersebut berpotensi mengubah posisi perusahaan asing yang telah lama beroperasi di sektor minyak Venezuela.China Sudah Tanam Modal di Industri Minyak VenezuelaKepentingan Beijing di Venezuela bukan perkara kecil. Data yang dikutip dari American Enterprise Institute menunjukkan China telah menginvestasikan sekitar US$2,1 miliar di industri minyak Venezuela sejak 2016.Dua perusahaan energi China juga memiliki kepentingan dalam konsorsium yang terkait dengan cadangan minyak Venezuela.China National Petroleum Corporation (CNPC) disebut memiliki saham dalam konsorsium dengan konsesi yang mencakup sekitar 1,6 miliar barel minyak. Sementara China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) memiliki saham yang mencakup sekitar 2,8 miliar barel.China juga selama ini menjadi salah satu pembeli minyak Venezuela. Namun, berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut, minyak Venezuela hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total impor minyak China.Posisi tersebut menunjukkan bahwa bagi Beijing, Venezuela bukan sekadar sumber pasokan minyak, tetapi juga bagian dari kepentingan investasi energi jangka panjang.Venezuela Punya Cadangan Minyak Terbesar DuniaVenezuela memiliki posisi strategis dalam peta energi global. Negara tersebut diperkirakan memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 303 miliar barel, menjadikannya salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.Sementara itu, kesepakatan baru dengan NABEP mencakup sekitar 65 miliar barel cadangan terbukti. Angka tersebut setara dengan sekitar seperlima dari total cadangan minyak Venezuela.Washington menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah untuk meningkatkan produksi minyak Venezuela, memperbaiki industri energi, serta memperkuat pasokan minyak Amerika Serikat.NABEP sendiri menyatakan berencana menggelontorkan investasi hampir US$100 miliar untuk mengembangkan operasi minyak di Venezuela. Perusahaan tersebut menargetkan peningkatan produksi hingga lebih dari 1 juta barel per hari.Perebutan Pengaruh di Balik Kesepakatan MinyakKesepakatan minyak Venezuela tidak hanya berkaitan dengan bisnis energi. Perubahan struktur pengelolaan ladang minyak tersebut juga berpotensi menggeser keseimbangan pengaruh Amerika Serikat, China, dan Rusia di kawasan Amerika Latin.Washington memperoleh akses ekonomi dan hak tata kelola yang besar, sementara Beijing kini secara terbuka mengingatkan agar investasi dan hak perusahaan China tetap dihormati.Dengan cadangan minyak Venezuela yang sangat besar, perkembangan berikutnya akan menjadi perhatian pasar energi sekaligus geopolitik global.Bagi China, persoalannya bukan hanya berapa banyak minyak Venezuela yang dapat dibeli, tetapi apakah kepentingan ekonomi yang telah dibangun selama bertahun-tahun tetap aman di tengah kembalinya pengaruh Amerika Serikat ke sektor energi Venezuela.