Mayoritas Warga Indonesia Masih Andalkan Layanan Tatap Muka, Pengguna Telemedisin Baru 2,4%

ari tanjung - Minggu, 19 Juli 2026 18:48 WIB
nfografik hasil Survei APJII 2026 yang menunjukkan rendahnya adopsi telemedisin di Indonesia. Hanya 2,4% atau sekitar 1 dari 42 responden menggunakan aplikasi kesehatan, sementara Halodoc, Alodokter, dan KlikDokter menguasai hampir 80% preferensi pengguna layanan telemedisin.

Topikseru.com - Transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Di tengah tingginya penetrasi internet nasional, pemanfaatan aplikasi kesehatan untuk memperoleh layanan medis ternyata masih sangat terbatas.

Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026 yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan 97,6% responden tidak menggunakan aplikasi kesehatan online ketika membutuhkan layanan medis. Sebaliknya, hanya 2,4% responden yang memanfaatkan layanan telemedisin.

Dengan kata lain, hanya sekitar 1 dari 42 masyarakat Indonesia yang memilih berkonsultasi melalui aplikasi kesehatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa layanan telemedisin masih berada pada tahap awal adopsi di Indonesia, meski infrastruktur internet terus berkembang.

Adopsi Telemedisin Masih Rendah di Tengah Era Digital

Rendahnya penggunaan aplikasi kesehatan menjadi salah satu temuan utama survei APJII 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses internet yang semakin luas belum secara otomatis mengubah perilaku masyarakat dalam mencari layanan kesehatan.

Bagi sebagian besar masyarakat, konsultasi tatap muka masih menjadi pilihan utama ketika mengalami keluhan kesehatan. Di sisi lain, telemedisin baru dimanfaatkan oleh kelompok pengguna yang relatif kecil dibandingkan keseluruhan populasi pengguna internet.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan digitalisasi kesehatan tidak lagi sebatas pada ketersediaan teknologi, melainkan bagaimana meningkatkan tingkat adopsi dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan berbasis digital.

Halodoc dan Alodokter Mendominasi Pilihan Pengguna

Meski jumlah pengguna telemedisin masih terbatas, persaingan antarplatform memperlihatkan pola yang sangat terkonsentrasi.

Hasil survei APJII mencatat Halodoc menjadi aplikasi kesehatan yang paling banyak digunakan dengan pangsa 36,3%, disusul Alodokter sebesar 32,7%. Selisih keduanya hanya 3,6 poin persentase, menandakan persaingan dua pemain terbesar berlangsung cukup ketat.

Sementara itu, KlikDokter berada di posisi ketiga dengan 10,6%, menjadi satu-satunya platform di luar dua pemimpin pasar yang masih mencatatkan pangsa pengguna dua digit.

Pangsa Penggunaan Aplikasi Kesehatan di Indonesia (APJII 2026)PeringkatAplikasiPangsa Pengguna1Halodoc36,3%2Alodokter32,7%3KlikDokter10,6%4Good Doctor4,5%5Get Well4,3%6SehatQ3,0%7JKN Mobile2,5%LainnyaBeragam aplikasi6,0%Tiga Platform Menguasai Hampir 80 Persen Pasar

Pengolahan data survei menunjukkan struktur pasar telemedisin Indonesia masih sangat terkonsentrasi.

Jika pangsa Halodoc, Alodokter, dan KlikDokter digabungkan, ketiganya menguasai sekitar 79,6% preferensi pengguna telemedisin. Artinya, hampir 8 dari setiap 10 pengguna aplikasi kesehatan memilih salah satu dari tiga platform tersebut.

Sebaliknya, empat aplikasi lainnya—Good Doctor, Get Well, SehatQ, dan JKN Mobile—secara kolektif hanya menguasai 14,3% preferensi pengguna. Sisanya sekitar 6% menggunakan aplikasi lain di luar daftar survei.

Distribusi tersebut mengindikasikan pasar telemedisin Indonesia masih didominasi segelintir pemain besar. Keunggulan mereka kemungkinan didorong oleh tingkat pengenalan merek yang lebih tinggi, jaringan dokter yang lebih luas, serta ekosistem layanan yang telah lebih matang dibandingkan kompetitor.

Jurang Persaingan Masih Lebar Setelah Tiga Besar

Data APJII juga memperlihatkan adanya kesenjangan cukup lebar antara kelompok pemimpin pasar dan pemain lainnya.

KlikDokter yang berada di posisi ketiga memperoleh 10,6%, sedangkan Good Doctor di peringkat berikutnya hanya mencatat 4,5%. Selisih lebih dari dua kali lipat tersebut menunjukkan belum ada kompetitor yang benar-benar mampu menyaingi dominasi tiga platform terbesar.

Temuan ini menggambarkan bahwa kompetisi telemedisin di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah aplikasi yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan membangun basis pengguna dalam skala besar.

JKN Mobile Belum Menjadi Pilihan Utama Konsultasi Digital

Menariknya, JKN Mobile, aplikasi resmi BPJS Kesehatan, hanya memperoleh 2,5% preferensi pengguna sehingga berada di posisi ketujuh.

Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang JKN Mobile sebagai aplikasi administrasi layanan kesehatan, seperti pengelolaan kepesertaan, antrean fasilitas kesehatan, dan informasi layanan BPJS, bukan sebagai platform utama untuk konsultasi medis secara daring.

Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan adanya perbedaan fungsi antara aplikasi layanan publik dan platform telemedisin komersial yang berfokus pada konsultasi dokter secara langsung.

Peluang Pertumbuhan Industri Masih Terbuka

Di balik rendahnya tingkat penggunaan, survei APJII juga memperlihatkan ruang pertumbuhan yang masih sangat besar bagi industri telemedisin nasional.

Dengan hanya 2,4% responden yang menggunakan aplikasi kesehatan, potensi perluasan pasar masih terbuka lebar apabila penyedia layanan mampu meningkatkan kemudahan akses, kualitas layanan, serta kepercayaan masyarakat terhadap konsultasi medis secara digital.

Data ini menunjukkan bahwa tantangan utama industri telemedisin Indonesia bukan lagi sekadar menghadirkan aplikasi baru, melainkan memperluas adopsi di tengah masyarakat yang masih mengandalkan layanan kesehatan konvensional.

Metodologi Survei

Temuan ini berasal dari Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet Indonesia 2026 yang diselenggarakan APJII.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka terhadap 8.700 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi selama periode 1 Februari hingga 15 Maret 2026. Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error ±1,1%, sehingga hasilnya memberikan gambaran representatif mengenai perilaku masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan layanan kesehatan digital.

Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Berita

Daftar 10 Provinsi dengan Kemiskinan Tertinggi di Indonesia Maret 2026

Berita

Data BPS Mei 2026: Rata-Rata Gaji Buruh Rp3,39 Juta, Selisih Upah Pria dan Wanita Masih Lebar

Berita

Sumatra Barat Pimpin Kunjungan Perpustakaan Nasional, Selisih 6,14 Poin di Atas Rata-rata Indonesia

Berita

IKK Humbang Hasundutan Turun Jadi 95,54 pada 2025, Biaya Konstruksi Semakin Kompetitif

Berita

Persentase Pengeluaran Makanan dan Bukan Makanan di Sumatera Utara: Kota Medan Paling Sejahtera?

Berita

Isu Perselingkuhan Artis Kembali Ramai, Ini Data BPS dan Alasan Psikologis Mengapa Korban Bisa Balik Selingkuh