Topikseru.com - Data terbaru mengungkap beberapa negara kini diam-diam duduk sebagai negara pemilik Bitcoin atau
BTC terbanyak di dunia. Mereka menjadikan aset digital ini bagian dari strategi keuangan nasional.Tak tanggung-tanggung, mulai dari Amerika Serikat hingga Bhutan, kepemilikan Bitcoin mereka tak lagi sekadar simbol investasi, melainkan penyangga cadangan strategis.Bitcoin sebagai cadangan nasional? Dunia benar-benar berubah.[irp posts="14530" ]Ini 6 Negara Pemilik BTC Terbanyak di Dunia1. Amerika Serikat Di posisi puncak, Amerika Serikat memegang 207.189 BTC. Mayoritas aset digital itu berasal dari hasil penyitaan berbagai kasus kriminal.Uniknya, di era Donald Trump, tumpukan BTC ini bahkan disebut sebagai cadangan strategis nasional, mendampingi emas dan dolar.2. China China muncul sebagai pemain senyap. Meski terkenal “anti-Bitcoin” karena larangan mining, Beijing masih menggenggam 194.000 BTC, yang berasal dari warisan sitaan skandal PlusToken yang mengguncang dunia kripto beberapa tahun lalu.3. Ukraina (Hasil donasi perang) Cerita Bitcoin semakin dramatis di Ukraina. Negara yang diguncang invasi Rusia ini justru menegaskan BTC sebagai “peluru digital” untuk mendanai pertahanan.Hingga Juli 2025, Ukraina tercatat mengamankan 46.351 BTC, mayoritas hasil donasi publik global.[irp posts="14041" ]4. Inggris Di sisi lain, Inggris muncul di peringkat ketiga dengan 61.245 BTC.5. Bhutan Sementara kejutan datang dari negeri Himalaya: Bhutan. Lewat program penambangan tenaga air, negara kecil ini punya 11.924 BTC, menjadikannya pemain unik di peta kepemilikan kripto global.6. El Salvador Dan tentu saja El Salvador, pionir legal tender Bitcoin sejak 2021, kini tercatat resmi memiliki 6.229 BTC.Meski terkesan kecil, keberanian El Salvador mematenkan BTC sebagai alat pembayaran sah memengaruhi diskursus kebijakan publik dunia.[irp posts="14433" ]Bitcoin: Cadangan Masa DepanMasuknya negara sebagai pemilik Bitcoin terbesar menandai babak baru geopolitik aset digital.Jika dulu BTC dicap instrumen spekulasi, kini perlahan menjelma sebagai penyangga cadangan devisa, pelengkap emas, dan senjata diplomasi keuangan.Saat volatilitas masih jadi momok, tren ini menunjukkan Bitcoin makin diterima sebagai bagian dari ekosistem ekonomi resmi - bukan sekadar “koin mainan” trader ritel.