Topikseru.com, Jakarta - Pada pembukaan Perdagangan Senin (13/7/2026) nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,32% di level Rp 18.122 per dolar AS di pasar spot.Pergerakan mata uang Asia hingga pukul 09.00 WIB bergerak melemah terhadap dolar. Nilai tukar rupiah menjadi mata uang yang melemah paling dalam di antara mata uang Asia lainnya setelah Won Korea.Korea Won melemah 0,38% menjadi 1.504,69. Di posisi ketiga ada yen Jepang yang melemah terhadap dollar AS sebesar 0,22% di 162,04.Selanjutnya ada baht Thailand yang juga melemah 0,216% di posisi 33,365 per dolar AS.Dolar Singapura juga melemah terhadap dolar AS sebesar 0,17% di level 1,2937. Ringgit Malaysia melemah sebesar 0,12% di level 4,077 per dolar AS.Mata uang Filipina, peso melemah sebesar 0,11% di 61,599. Yuan China melemah 0,049% di 6,7802.Dan dolar Hong Kong melemah tipis cenderung stagnan 0,001% di level 7,8399 Sementara mata uang Asia yang menguat diantaranya Taiwan Dolar menguat 0,243% di 32,111.Chief Analyst Doo Financial Futures: Aset Safe Haven Bakal Tekan Nilai Tukar RupiahPada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026) nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, penguatan ini dinilai masih dibayangi risiko pembalikan arah seiring kembali memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,35% secara harian ke Rp 18.065 per dolar AS pada Jumat (10/7/2026).Diketahui, dalam sepekan rupiah melemah 0,56% dari posisinya di level Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (3/7/2026).Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,11% secara harian ke Rp 18.069 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,60% dari posisinya di level Rp 17.960 per dolar AS pada Jumat (3/7/2026).Menurut Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah terjadi seiring membaiknya sentimen risiko global.Kondisi tersebut mendorong mata uang di kawasan Asia maupun mata uang utama dunia menguat terhadap dolar AS."Rupiah dan mata uang regional maupun dunia umumnya menguat terhadap dolar di tengah pulihnya sentimen risiko menyusul harapan dilanjutkannya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran," ujar Lukman.Dia mengingatkan penguatan rupiah berpotensi tidak bertahan lama. Pasalnya, pasar kembali dihadapkan pada meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman terbaru terhadap Iran yang kemudian dibalas dengan pernyataan serupa oleh Iran.Menurutnya, eskalasi konflik tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS, sehingga dapat kembali menekan pergerakan mata uang negara berkembang seperti rupiah.Untuk perdagangan Senin (13/7/2026), Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS.