Pengamat Mata Uang: Nilai Tukar Rupiah akan Dipengaruh Sejumlah Sentimen Domestik dan Global

Mhd Rabbani - Kamis, 23 Juli 2026 07:41 WIB
Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (22/7), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 17.917 per dolar AS. Ini membuat nilai tukar rupiah melemah 0,16% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.888 per dolar AS.Di mana nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah pasar yang mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan serta eskalasi konflik di Timur Tengah.Sejalan dengan itu, rupiah berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup stagnan di level Rp17.909 per dolar AS pada perdagangan hari ini, sama dengan posisi penutupan sehari sebelumnya.Menanggapi hal tersebut, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen domestik dan global.Dari dalam negeri, pasar merespons keputusan BI yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli 2026.Selain menahan suku bunga acuan, BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,5%.Menurut Ibrahim, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.“BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas,” ungkapnya.Dari sisi fiskal, pasar juga mencermati kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga akhir Juni 2026, APBN mencatatkan defisit Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB).Sementara itu, pendapatan negara mencapai Rp 1.459,4 triliun atau 46,3% dari target tahun ini, sedangkan belanja negara telah mencapai Rp 1.656 triliun atau 43,1% dari target.Kondisi tersebut menunjukkan belanja negara masih lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak sedikit penurunan defisit APBN.Di sisi eksternal, Ibrahim menilai meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah.Dia menyoroti eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut.Pasukan AS dilaporkan kembali menyerang sejumlah target militer Iran, sementara Teheran melancarkan serangan balasan ke sejumlah posisi militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.Untuk perdagangan Kamis (23/7), Ibrahim mengatakan pasar akan kembali mencermati ekspektasi arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.Menurutnya, meningkatnya harga minyak akibat gangguan pasokan di kawasan Teluk berpotensi mendorong inflasi AS sehingga memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama."Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, sementara peluang kenaikan suku bunga pada September berada di kisaran 68%," jelasnya.Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah pada Kamis (23/7) akan bergerak di kisaran Rp 17.920 hingga Rp 18.970 per dolar AS.

Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini

Ekonomi & Bisnis

Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik

Ekonomi & Bisnis

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini

Ekonomi & Bisnis

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS