Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,02% Bertengger di Level Rp18.070 per dolar AS Pagi Ini

Mhd Rabbani - Kamis, 30 Juli 2026 09:38 WIB
Nilai Tukar Rupiah
Topikeru.com, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (30/7/2026) pagi. nilai tukar rupiah spot dibuka menguat tipis berada di level Rp 18.070 per dolar Amerika Serikat (AS).Diketahui, nilai tukar rupiah menguat 0,02% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 18.073 per dolar AS.Di perdagangan Asia, hanya tiga mata uang yang menguat terhadap dolar AS pagi ini. Yakni yuan China yang menguat 0,08%, ringgit Malaysia yang menguat 0,07% dan rupiah yang menguat 0,02% terhadap dolar AS.Sedangkan mayoritas mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,38%.Disusul dolar Taiwan yang melemah 0,20%, baht Thailand melemah 0,11%, yen China melemah 0,04%.Dolar Singapura melemah 0,04%, dolar Hong Kong melemah 0,01% dan peso Filipina yang melemah 0,002% terhadap dolar AS.Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 100,90, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 100,88.Analis Pasar: Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi oleh Perkembangan Konflik AS-IranPada perdagangan Kamis (30/7/2026) nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan di pasar spot.Di mana penguatan dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi suku bunga tinggi di Negeri Paman Sam, serta memanasnya tensi geopolitik global menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (29/7/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat tipis 0,06% ke level Rp 18.073 per dolar AS.Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level Rp 18.087 per dolar AS.Adapun data Trading Economics menunjukkan posisi rupiah di kisaran Rp 18.059,7 per dolar AS.Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai pergerakan rupiah masih dibayangi oleh penguatan dolar AS.Kondisi tersebut dipicu meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.Bahkan, pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga acuan apabila tekanan inflasi global kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.Di sisi lain, eskalasi konflik antara AS dan Iran yang kembali memanas turut mendorong harga minyak bertahan di level tinggi.Situasi ini memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai mata uang utama dalam transaksi perdagangan minyak dunia (petrodollar).Kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko imported inflation atau inflasi impor bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.Kombinasi faktor tersebut menjadi salah satu penyebab utama yang membatasi ruang penguatan rupiah.Untuk perdagangan Kamis (30/7), Brahmantya memperkirakan pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS-Iran serta kondisi jalur distribusi energi global di Selat Hormuz.Selain itu, investor juga akan mencermati arah pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) serta sejumlah data ekonomi AS, terutama terkait inflasi dan pasar tenaga kerja, yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed."Selama harga minyak masih tinggi dan pasar memperkirakan The Fed tetap hawkish, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan mereda," kata Brahmantya.Menurutnya, tantangan terbesar rupiah saat ini tidak hanya berasal dari penguatan indeks dolar AS, tetapi juga meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) untuk transaksi energi global.Karena itu, pelaku pasar menantikan langkah Bank Indonesia melalui intervensi di pasar valas maupun kebijakan stabilisasi nilai tukar untuk membatasi pelemahan rupiah lebih lanjut.Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Brahmantya memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis."Saya memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.000–Rp 18.150 per dolar AS," ujar Brahmantya.Ia menambahkan, apabila sentimen global masih didominasi oleh penguatan dolar AS dan harga minyak tetap bertahan tinggi, rupiah berpotensi kembali menguji area resistensi di kisaran Rp 18.200 hingga Rp 18.300 per dolar AS.Sebaliknya, jika dolar AS mulai terkoreksi atau muncul sentimen positif dari pasar global, rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat menuju area support di level Rp 18.000 per dolar AS.

Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini

Ekonomi & Bisnis

Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik

Ekonomi & Bisnis

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini

Ekonomi & Bisnis

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS