Dolar AS Bergerak di Dekat Level Terendah Dipicu Imbal Hasil US Treasury Turun dari Level Tertingginya

Mhd Rabbani - Rabu, 19 Agustus 2026 11:16 WIB
Dolar AS
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (19/8/2026) Dolar AS (Amerika Serikat) bergerak di dekat level terendah dalam beberapa bulan terhadap sejumlah mata uang utama.Pelemahan dolar terjadi setelah imbal hasil US Treasury turun dari level tertingginya, sementara pasar menunggu risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed).Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama turun tipis menjadi 99,65.Mata uang euro naik tipis ke US$ 1,1577, masih berada di dekat level tertinggi dua bulan yang dicapai pada awal pekan ini.Poundsterling relatif stabil di US$ 1,3533, bertahan di dekat level tertinggi tiga bulan menjelang rilis data inflasi Inggris pada Rabu.Data tersebut diperkirakan menunjukkan tekanan harga masih bertahan. Sementara itu, yen Jepang bergerak tipis di 159,56 yen per dolar AS.Yen telah menghapus sebagian besar keuntungan yang diperoleh setelah intervensi, meski masih jauh dari level terendah multi-dekade sekitar 164 yen per dolar AS.Pasar Tunggu Risalah The Fed Perhatian investor kini tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru yang akan dirilis pada Rabu waktu AS.Investor mencari petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap arah suku bunga, terutama setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan.Data dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan penurunan lapangan kerja yang tidak terduga pada Juli serta inflasi yang relatif moderat.Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed."Jika The Fed tidak menindaklanjuti kenaikan suku bunga yang saat ini diperhitungkan pasar, potensi kenaikan imbal hasil obligasi akan sangat terbatas," kata Harvinder Kalirai, Chief Global Fixed Income and Currency Strategist di Alpine Macro.Menurut dia, pelemahan pasar tenaga kerja dan kejutan inflasi biasanya diikuti menyempitnya keunggulan imbal hasil dolar AS. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menekan nilai tukar dolar.Imbal Hasil US Treasury Turun Aksi jual US Treasury yang berlangsung sebelumnya tampaknya mulai mereda di tengah minimnya data ekonomi dan katalis pasar pada pekan ini.Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali turun dan terakhir berada di 4,702%. Sementara imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun menjadi 5,282%.Penurunan imbal hasil tersebut turut mengurangi daya tarik dolar AS karena keunggulan imbal hasil aset berdenominasi dolar dibandingkan mata uang lainnya ikut menyempit.Namun, risiko inflasi akibat kenaikan harga energi masih menjadi perhatian pasar. Kebuntuan konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam tiga pekan.Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan tidak ada pembicaraan dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka.Pernyataan tersebut bertentangan dengan klaim Iran bahwa jalur pelayaran strategis tersebut masih tertutup.Kenaikan harga minyak berpotensi menjaga tekanan inflasi dan dapat memengaruhi keputusan The Fed mengenai suku bunga ke depan.Di pasar valuta asing lainnya, dolar Selandia Baru relatif stabil di US$ 0,5874, sedangkan dolar Australia berada di US$ 0,7083. 

Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini

Ekonomi & Bisnis

Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik

Ekonomi & Bisnis

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini

Ekonomi & Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini

Ekonomi & Bisnis

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS