Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Selasa (8/9/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan pagi ini setelah kemarin ditutup melemah.Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG menguat 0,46% ke level 6.650 per saham di pasar spot.Sebanyak 302 saham menguat jadi penopang laju IHSG pagi ini, sementara itu 168 saham lainnya melemah dan 232 saham stagnan.Dengan total volume perdagangan saham di BEI pagi ini mencapai 3.96 miliar dengan nilai transaksi Rp 1,23 triliun.Top gainers di LQ45 adalah:1. PT BUmi Resources Tbk (BUMI) 5,5% ke Rp 232 per saham2. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 2,7% ke Rp 4.530 per saham3. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) 2,9% ke Rp 525 per sahamTop losers di LQ45 adalah:1. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 1,0% ke Rp 2.980 per saham2. PT Astra International Tbk (ASII) 0,8% ke Rp 4.870 per saham3. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 0,8% ke Rp 3.880 per sahamAnalis Pasar: IHSG Masih Berpeluang Berbalik Menguat di Support 6.603 dan Resistance 6.632Pada perdagangan Selasa (8/9/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas setelah tertekan oleh saham-saham berkapitalisasi besar pada perdagangan sebelumnya.Arah indeks akan ditentukan oleh sentimen global serta sejumlah data ekonomi yang menjadi perhatian investor.Pada perdagangan Senin (7/9), IHSG ditutup melemah 16,80 poin atau 0,25% ke level 6.619,67.Tekanan terutama datang dari saham-saham big caps, khususnya sektor keuangan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).Menanggapi hal tersebut, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pelemahan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang terkoreksi.Pasar juga masih mencermati ekspektasi terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) setelah rilis data non-farm payroll (NFP) Amerika Serikat.“Diperkirakan rilis data NFP menguat dan membuat perkiraan sikap The Fed cenderung hawkish ke depannya,” kata Herditya.Sementara, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menambahkan, selain saham sektor keuangan, sektor kesehatan dan energi masih mampu menjadi penopang IHSG.Analis Pasar juga mencermati dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan sejumlah bencana di Indonesia terhadap pergerakan saham sektoral.Dari dalam negeri, kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi US$ 146,5 miliar pada Agustus menjadi sentimen positif bagi pasar.Menurut Herditya, potensi koreksi IHSG pada perdagangan Selasa cenderung terbatas. Bahkan, indeks masih berpeluang berbalik menguat dengan level support 6.603 dan resistance 6.632.“Rilis data neraca dagang China dan dampak beberapa bencana di Indonesia bakal memengaruhi arah IHSG,” ujarnya.Sementara itu, Reza memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 6.600-6.700, dengan support 6.600 dan resistance 6.700.Investor juga mulai mengantisipasi rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat pada 11 September 2026 yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed.Untuk strategi trading, Reza merekomendasikan saham IMPC, TINS, dan KOTA. Ketiganya masing-masing memiliki target harga Rp 1.605-Rp 1.730, Rp 4.610-Rp 4.830, dan Rp 224-Rp 236 per saham.Adapun Herditya merekomendasikan investor mencermati HRUM dengan target harga Rp 985-Rp 1.015, INKP di Rp 9.250-Rp 9.500, serta MDKA dengan target Rp 2.980-Rp 3.020 per saham.