Topikseru.com, Jakarta - Pada penutupan perdagangan Jumat (18/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,33% ke level 6.441,16. Secara mingguan, IHSG terkoreksi 1,42%.IHSG menutup perdagangan pekan ini di zona merah. Tekanan pasar saham domestik masih berlanjut di tengah sentimen global yang cenderung mengarah pada penghindaran risiko serta sejumlah faktor domestik yang membayangi pergerakan indeks.Tekanan masih membayangi pasar saham Indonesia. Sepanjang perdagangan 14–18 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,53% menjadi 6.441,159 dari posisi 6.541,377 pada pekan sebelumnya.Penurunan IHSG tersebut turut menggerus kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Kapitalisasi pasar turun 1,58% menjadi Rp 11.266 triliun dari Rp 11.446 triliun pada pekan sebelumnya.Di tengah tekanan pasar, aktivitas perdagangan juga mengalami penurunan. Rata-rata nilai transaksi harian BEI turun 6,95% menjadi Rp 15,22 triliun dari Rp 16,36 triliun pada pekan sebelumnya.Rata-rata frekuensi transaksi harian turun lebih dalam, yakni 14,73% menjadi 1,89 juta kali transaksi dari 2,22 juta transaksi. Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian merosot 20,71% menjadi 28,61 miliar saham dari 36,09 miliar saham pada pekan sebelumnya.Tekanan pasar juga tercermin dari arus dana investor asing. Pada perdagangan terakhir pekan tersebut, investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp 1,79 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2026, nilai jual bersih investor asing telah mencapai Rp 74,36 triliun.Analis Pasar: IHSG Diproyeksi Memiliki Level Support di 6.371 dan 6.290Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan, pergerakan IHSG sepanjang pekan ini cenderung volatil dan masih berada dalam fase koreksi.“Tekanan terutama berasal dari meningkatnya risk-off sentiment di pasar global, penguatan dolar AS, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap prospek suku bunga global dan perkembangan geopolitik yang turut memengaruhi harga komoditas, khususnya minyak,” ujar Nafan.Meski demikian, IHSG sempat memperoleh dorongan dari technical rebound setelah mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan.Akumulasi selektif pada sejumlah saham berkapitalisasi besar serta kembali masuknya sebagian dana asing pada perdagangan tertentu turut menjadi katalis positif.Namun, penguatan tersebut belum menunjukkan pembalikan tren secara penuh. Investor masih cenderung melakukan profit taking ketika IHSG mendekati area resistance.Dari eksternal, Nafan menilai arah kebijakan moneter The Fed, pergerakan yield US Treasury, dolar AS, serta perkembangan geopolitik menjadi sentimen yang paling memengaruhi pasar.Perkembangan geopolitik juga berdampak terhadap harga minyak dan ekspektasi inflasi. Kenaikan harga minyak yang sebelumnya menembus US$100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan membuat investor tetap berhati-hati terhadap aset berisiko.Sementara dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada pelemahan rupiah serta arus dana asing yang secara kumulatif masih cenderung keluar dari pasar saham Indonesia.“Selain itu, implementasi kembali transaksi short selling dan agenda rebalancing indeks FTSE juga menjadi faktor yang meningkatkan volatilitas pada saham-saham tertentu,” jelas Nafan.Menurutnya, kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat investor masih perlu menerapkan strategi selektif.Stabilitas rupiah, aliran modal asing, perkembangan harga minyak, serta arah kebijakan moneter global dan domestik menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati pada pekan depan.Untuk perdagangan Senin (21/9/2026), Nafan memproyeksikan IHSG memiliki level support di 6.371 dan 6.290. Sementara itu, level resistance berada di 6.566 dan 6.636.