Topikseru.com - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) memaksa sedikitnya 115 kapal komersial untuk mengubah jalur pelayaran mereka. Langkah tegas ini diambil dalam rangka penegakan kembali blokade laut AS di perairan Iran secara menyeluruh.
Melalui pernyataan resminya di media sosial X pada Rabu (23/9/2026), CENTCOM menegaskan bahwa pengerahan kekuatan armada militer tersebut bertujuan menjaga efektivitas pengetatan jalur maritim.
"Hingga 23 September, pasukan CENTCOM telah mengalihkan 115 kapal komersial guna mempertahankan pemberlakuan secara ketat blokade 'tembok baja' Amerika," tulis pihak CENTCOM.
Baca Juga: Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu Operasi 'Tembok Baja' dan Buntut Pengingkaran Gencatan Senjata Operasi militer berskala besar ini merupakan puncak dari eskalasi konflik AS
Iran 2026 yang kembali berkobar sejak pertengahan tahun.
Ketegangan meningkat drastis ketika Presiden AS Donald Trump secara sepihak membatalkan kesepakatan penghentian permusuhan.
Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang sempat tercapai pada 17 Juni 2026 tidak lagi berlaku sejak 8 Juli 2026. Keputusan tersebut langsung diikuti oleh rentetan serangan udara dan laut militer AS ke sejumlah titik strategis di wilayah Iran.
Washington bergeming bahwa aksi pemboman dan pencegatan kapal tersebut merupakan tindakan balasan atas manuver Teheran yang dinilai mengancam keselamatan kapal-kapal niaga di jalur perlintasan internasional.
Baca Juga: AS Tolak Visa Tim Media Presiden Iran Jelang Sidang PBB, Teheran Kecam Pembatasan Pers Perebutan Kendali atas Selat Hormuz Teheran merespons aksi militer Washington dengan meluncurkan gempuran balasan ke berbagai pangkalan militer AS yang tersebar di wilayah Timur Tengah.
Pihak Iran menuding Washington telah melakukan pengkhianatan terbuka terhadap perjanjian damai.
Eskalasi kian tak terkendali saat militer Iran mengumumkan penutupan total jalur vital Selat Hormuz pada 12 Juli 2026.
Teheran menegaskan akses pelayaran di selat tersebut baru akan dibuka kembali jika seluruh intervensi militer AS di kawasan Timur Tengah dihentikan secara permanen.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB Sehari berselang pascapenutupan tersebut,
Donald Trump membalas dengan menegaskan posisi AS sebagai penjaga keamanan
Selat Hormuz sekaligus menginstruksikan blokade pelabuhan
Iran secara masif.
Operasi pencegatan lalu lintas kapal niaga hingga kini terus berlangsung dan memicu ancaman krisis energi global.