Pengamat Kritik Usulan Gerbong Khusus Wanita KRL Dipindah Usai Kecelakaan Bekasi

Muchlis - Rabu, 29 April 2026 12:46 WIB
gerbong khusus wanita KRL
Topikseru.com, Jakarta - Pengamat transportasi Deddy Herlambang mengkritisi usulan pemindahan gerbong khusus wanita (KKW) pada rangkaian KRL Commuter Line pascainsiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi yang mengusulkan agar gerbong khusus wanita pada rangkaian KRL Commuter Line dipindah pascainsiden kecelakaan di Bekasi Timur.Menurutnya, kebijakan tersebut bukanlah solusi utama dalam meningkatkan keselamatan penumpang.[irp posts="41595" ]"Nyawa laki-laki maupun perempuan sama berharganya. Pemindahan gerbong bukan jawaban atas persoalan keselamatan," ujar Deddy, Rabu (29/4/2026).Bandingkan dengan Jepang, Bukan Sekadar Posisi GerbongDeddy menilai, jika ingin mencontoh praktik negara maju seperti Jepang, penempatan gerbong khusus wanita justru berada di ujung rangkaian, bukan di tengah.Namun, ia menegaskan bahwa isu utama bukan terletak pada posisi gerbong, melainkan pada sistem keselamatan secara menyeluruh.Soroti Sistem Keselamatan yang Belum OptimalPascakecelakaan kereta di Bekasi Timur, Deddy menilai masih ada celah dalam implementasi keselamatan perkeretaapian nasional.Dia mengingatkan bahwa meskipun Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian menempatkan keselamatan sebagai prioritas, penerapannya di lapangan belum sepenuhnya memenuhi standar fail-safe system.Beberapa titik rawan yang disorot antara lain: Lintas padat dengan pola mixed traffic antara KRL dan kereta jarak jauh Sistem pengendalian perjalanan kereta yang belum optimal Risiko tabrakan dari belakang (rear-end collision) Dorong Percepatan Double-Double TrackSebagai solusi konkret, Deddy mendorong percepatan pembangunan jalur double-double track di lintas Bekasi–Cikarang.Langkah ini dinilai penting untuk memisahkan jalur KRL dengan kereta antarkota sehingga mengurangi potensi kecelakaan.Selain itu, ia juga meminta dilakukan audit menyeluruh terhadap sistem Pengendali Perjalanan Kereta Api Terpusat (PPKT) guna memastikan efektivitas pengawasan lalu lintas kereta.[irp posts="41554" ]Teknologi Keselamatan Harus DitingkatkanDeddy menekankan pentingnya modernisasi teknologi perkeretaapian, di antaranya:Sistem Automatic Train Protection (ATP) untuk kereta jarak jauhSistem sinyal modern seperti ETCS atau CBTC untuk layanan perkotaanMenurutnya, penerapan teknologi ini dapat meminimalkan kesalahan manusia dan meningkatkan keamanan perjalanan.Faktor SDM dan Budaya KeselamatanSelain teknologi, faktor manusia juga menjadi perhatian penting.Deddy menyoroti perlunya: Manajemen kelelahan masinis berbasis risiko Pelatihan simulasi darurat Sistem konfirmasi ganda pada sinyal kritis Budaya kerja yang mengutamakan keselamatan dibanding ketepatan waktuDia juga mendorong penerapan Railway Safety Management System (RSMS) secara menyeluruh.Perlu Sinergi Regulator dan OperatorDeddy menegaskan bahwa perbaikan sistem keselamatan tidak bisa dilakukan parsial. Dibutuhkan integrasi kuat antara regulator dan operator perkeretaapian, termasuk dalam perawatan infrastruktur.Dia juga menyoroti pentingnya penanganan perlintasan sebidang serta edukasi masyarakat terkait prosedur darurat saat terjadi gangguan di rel."Keselamatan harus menjadi sistem yang preventif, bukan sekadar reaktif setelah kejadian," tegasnya.

Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Nasional

PELNI Perkuat Budaya Safety di 84 Kapal lewat Fleet Safety Excellence Award 2026

Nasional

Hutama Karya Gelar Operasi Keselamatan Berkala di Seluruh Ruas Tol Kelolaan

Nasional

PELNI Perkuat Keselamatan dan Kompetensi Pelaut, Fokus pada Regenerasi SDM Maritim

Nasional

KAI Sumut Pastikan 1.578 Petugas Operasional Bersertifikat, Fokus Perkuat Keselamatan Perjalanan Kereta

Nasional

Misteri Taksi Listrik Mogok di Rel: Pakar ITB Ungkap Sejumlah Kemungkinan Teknis di Balik Tragedi Bekasi

Nasional

Kemenhub: Taksi Green SM Dievaluasi Usai Insiden Tabrakan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Bekasi