Topikseru.com, NTT – Aktivitas kegempaan masih berlangsung setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan, berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tercatat 31 gempa susulan hingga pukul 15.00 WIB.
Dari puluhan gempa susulan tersebut, terdapat empat kejadian dengan magnitudo yang relatif besar. Salah satunya berkekuatan M6,2 dan terjadi di laut dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.
Gempa susulan lainnya tercatat berkekuatan M5,5 dengan kedalaman 10 kilometer. Setelah itu, gempa susulan M6,2 kembali terjadi pada kedalaman yang sama.
Sementara satu gempa susulan lainnya berkekuatan M5,6 dan terjadi sekitar pukul 05.37 WIB.
Menurut Suharyanto, gempa-gempa dengan kekuatan cukup besar tersebut terjadi pada pagi hari setelah gempa utama.
Setelah rangkaian gempa tersebut, gempa susulan lainnya masih tercatat, tetapi tidak ada yang memiliki kekuatan melebihi magnitudo yang telah disebutkan.
Data tersebut menunjukkan aktivitas seismik masih berlangsung di wilayah terdampak setelah gempa utama M7,7.
Korban Meninggal Bertambah Menjadi 33 Orang
Di sisi lain, jumlah korban meninggal akibat gempa juga meningkat.
Gubernur NTT Melkiades Laka Lena menyampaikan, 33 orang meninggal dunia akibat gempa yang mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya.
Data sementara tersebut tersebar di lima kabupaten. Rinciannya, tiga korban meninggal di Sikka, satu orang di Ngada, 14 orang di Manggarai, 14 orang di Manggarai Timur, dan satu orang di Manggarai Barat.
Selain korban meninggal, sebanyak 23 orang mengalami luka-luka. Para korban luka menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas.
Jumlah tersebut merupakan data sementara karena proses pendataan dan penanganan korban masih berlangsung di wilayah terdampak.
BNPB Sebelumnya Catat 14 Korban Meninggal
Sebelum pembaruan jumlah korban menjadi 33 orang, BNPB sebelumnya melaporkan data korban yang lebih rendah pada pembaruan siang hari.
Perbedaan angka tersebut terjadi seiring proses pendataan yang dilakukan pemerintah daerah bersama unsur penanggulangan bencana di lapangan.
Dengan demikian, angka 33 korban meninggal merupakan pembaruan yang disampaikan pemerintah daerah pada Sabtu siang, sedangkan proses verifikasi dan pemutakhiran data masih berjalan.
Aktivitas Gempa Susulan Masih Dipantau
Gempa susulan menjadi salah satu aspek yang terus dipantau setelah gempa utama M7,7.
BMKG mencatat gempa utama terjadi pada Sabtu pagi dengan pusat gempa di wilayah laut sekitar Nagekeo. Gempa tersebut juga sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum kemudian dihentikan setelah pemantauan muka air laut menunjukkan kondisi yang tidak lagi membahayakan.
Rangkaian gempa susulan yang tercatat setelah kejadian utama menjadi bagian dari proses pemantauan aktivitas tektonik di wilayah tersebut.
Sementara itu, penanganan terhadap korban dan masyarakat terdampak terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama BNPB, BPBD, TNI, Polri, Basarnas, tenaga kesehatan dan unsur terkait.
Pendataan korban, kerusakan bangunan serta dampak lainnya masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.