Topikseru.com - Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan penting dengan 10 mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto di kediaman pribadinya, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (8/11/2026).
Pertemuan yang mempertemukan sejumlah mantan pimpinan tertinggi Polri lintas generasi tersebut menjadi perhatian karena berlangsung di tengah mencuatnya dugaan kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo, sejumlah tokoh, hingga masyarakat sipil.
Selain Kapolri aktif dan para pendahulunya, sejumlah pejabat tinggi negara turut menghadiri pertemuan tersebut. Di antaranya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) M. Herindra, serta Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Tandyo Budi Revita.
Hadir pula Wakil Menteri Pertahanan Marsekal TNI Yusuf Jauhari dan Sekretaris Kabinet Letkol Infanteri Teddy Indra Wijaya.
Kehadiran para mantan Kapolri dalam satu forum bersama Presiden, Kapolri aktif, dan pimpinan TNI-BIN membuat pertemuan di Hambalang tersebut menjadi agenda yang menarik perhatian publik.
Kasus Dugaan Penyadapan Membayangi Pertemuan HambalangPertemuan tersebut berlangsung ketika dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo dan sejumlah tokoh serta masyarakat sipil tengah menjadi perhatian.
Dalam informasi yang beredar, dugaan penyadapan itu disebut melibatkan seorang jenderal polisi bintang empat dan mantan Kapolri berinisial LSP bersama sejumlah perwira tinggi Polri.
Kendati demikian, belum ada keterangan resmi yang memastikan bahwa pertemuan Prabowo dengan para mantan Kapolri tersebut secara khusus membahas perkara penyadapan.
Pihak Istana juga belum mengungkap secara terperinci agenda maupun substansi pembicaraan dalam pertemuan tersebut.
Berdasarkan siaran resmi Sekretariat Presiden, Prabowo membuka pertemuan sebelum memberikan kesempatan kepada sejumlah mantan Kapolri untuk menyampaikan pandangan mereka.
Rekaman yang dipublikasikan Istana hanya memperlihatkan bagian awal kegiatan. Video tersebut tidak disertai audio sehingga isi pembicaraan antara Presiden dan para mantan pimpinan Polri belum dapat diketahui.
10 Mantan Kapolri Hadir, Ini Daftar NamanyaSalah satu hal yang menarik perhatian dari pertemuan di Hambalang adalah kehadiran 10 mantan Kapolri yang pernah memimpin institusi kepolisian Indonesia.
Para purnawirawan jenderal tersebut berasal dari periode kepemimpinan berbeda, mulai 1998 hingga 2019.
Berikut daftar 10 mantan Kapolri yang hadir:
1. Jenderal Pol. (Purn.) Roesmanhadi.
2. Jenderal Pol. (Purn.) Surojo Bimantoro.
3. Jenderal Pol. (Purn.) Da'i Bachtiar.
4. Jenderal Pol. (Purn.) Sutanto.
5. Jenderal Pol. (Purn.) Bambang Hendarso Danuri.
6. Jenderal Pol. (Purn.) Timur Pradopo.
7. Jenderal Pol. (Purn.) Sutarman.
8. Jenderal Pol. (Purn.) Badrodin Haiti.
9. Jenderal Pol. (Purn.) Rusdiharjo.
10. Jenderal Pol. (Purn.) Tito Karnavian.
Dari daftar tersebut, tidak terlihat nama Jenderal Pol. (Purn.) Idham Azis yang menjabat sebagai Kapolri pada periode 1 November 2019 hingga 27 Januari 2021.
Kehadiran para mantan Kapolri tersebut mempertemukan sejumlah generasi kepemimpinan kepolisian dalam satu forum bersama Presiden.
Prabowo Duduk di Tengah, Suyudi dan Sjafrie Dampingi PresidenSusunan tempat duduk dalam pertemuan tersebut juga memperlihatkan posisi masing-masing pejabat dalam forum.
Prabowo berada di bagian tengah meja bundar yang dikelilingi para mantan Kapolri dan Kapolri aktif Jenderal Suyudi Ario Seto.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin duduk di sebelah kanan Presiden, sedangkan Kapolri Suyudi berada di sisi kirinya.
Di belakang jajaran tersebut, terlihat sejumlah pejabat utama Polri, termasuk Kabareskrim Komjen Pol. Asep Safrudin dan Kadiv Propam Irjen Pol. Mahmud Nazly Harahap.
Sebelum memasuki agenda diskusi, Prabowo terlebih dahulu menyambut para mantan Kapolri dengan bersalaman satu per satu.
Momen tersebut menjadi bagian dari dokumentasi awal pertemuan yang kemudian disebarluaskan melalui kanal resmi Sekretariat Presiden.
Substansi Pembicaraan Masih Menjadi Tanda TanyaMeski mempertemukan tokoh-tokoh penting dari lingkungan kepolisian dan pemerintahan, belum ada penjelasan terbuka mengenai kesimpulan maupun hasil pertemuan di Hambalang.
Ketiadaan rekaman suara dan belum adanya keterangan terperinci dari Istana membuat publik belum memperoleh gambaran utuh mengenai isu yang dibicarakan.
Di tengah sorotan terhadap dugaan penyadapan, perhatian kini tertuju pada langkah pemerintah dan Polri dalam memberikan penjelasan mengenai perkembangan persoalan tersebut.
Transparansi menjadi penting agar berbagai spekulasi yang berkembang tidak mendahului proses pemeriksaan dan fakta hukum.