Topikseru.com -Setiap 2 November, dunia memperingati Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas atas Kejahatan terhadap Jurnalis atau International Day to End Impunity for Crimes Against Journalists.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa jurnalis masih menghadapi berbagai ancaman ketika menjalankan tugasnya. Mulai dari intimidasi, kekerasan fisik, kriminalisasi, hingga pembunuhan yang tidak selalu diikuti dengan penegakan hukum yang adil.
Hari internasional ini juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap jurnalis agar mereka dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat tanpa tekanan atau ancaman dari pihak mana pun.
Sejarah Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas terhadap Jurnalis
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 2 November sebagai Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas atas Kejahatan terhadap Jurnalis melalui Resolusi Majelis Umum PBB A/RES/68/163 pada 18 Desember 2013.
Tanggal tersebut dipilih untuk mengenang pembunuhan dua jurnalis Prancis, Ghislaine Dupont dan Claude Verlon, di Mali pada 2 November 2013.
Keduanya bekerja untuk Radio France Internationale (RFI) dan sedang menjalankan tugas jurnalistik ketika diculik dan dibunuh.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa pekerjaan jurnalistik dapat membawa risiko serius, terutama ketika jurnalis meliput konflik, korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, dan berbagai persoalan sensitif lainnya.
Melalui peringatan ini, PBB mendorong negara-negara untuk memastikan bahwa kejahatan terhadap jurnalis diselidiki secara menyeluruh dan pelakunya diadili.
Apa Itu Impunitas terhadap Jurnalis?
Impunitas adalah kondisi ketika seseorang yang melakukan kejahatan tidak mendapatkan hukuman atau terbebas dari proses hukum yang seharusnya dijalankan.
Dalam konteks jurnalistik, impunitas terjadi ketika pelaku kekerasan, ancaman, atau pembunuhan terhadap jurnalis tidak diusut secara tuntas.
Kondisi ini dapat membuat pelaku merasa bebas melakukan tindakan serupa. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh jurnalis, tetapi juga masyarakat yang kehilangan akses terhadap informasi yang akurat dan independen.
Ketika jurnalis takut menyampaikan fakta karena ancaman, fungsi pers sebagai penyampai informasi dan pengawas kekuasaan dapat terganggu.
Mengapa Kebebasan Pers Masih Terancam?
Kebebasan pers merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, dalam praktiknya, jurnalis masih menghadapi berbagai tantangan ketika menjalankan tugas.
Beberapa bentuk ancaman terhadap kebebasan pers antara lain:
1. Intimidasi dan kekerasan
Jurnalis dapat menghadapi ancaman atau kekerasan ketika meliput suatu peristiwa, terutama berita yang berkaitan dengan kepentingan pihak tertentu.
2. Kriminalisasi karya jurnalistik
Penggunaan proses hukum terhadap jurnalis atau produk jurnalistik dapat menjadi ancaman apabila dilakukan untuk membungkam pemberitaan yang kritis.
3. Serangan digital
Perkembangan teknologi membuat ancaman terhadap jurnalis tidak hanya terjadi secara langsung. Serangan digital, peretasan, doxing, dan intimidasi melalui media sosial juga dapat mengganggu keselamatan serta pekerjaan mereka.
4. Lemahnya penegakan hukum
Ketika kasus kekerasan terhadap jurnalis tidak ditangani secara serius, kondisi tersebut dapat memperkuat budaya impunitas dan meningkatkan risiko terjadinya pelanggaran serupa.
Perlindungan Jurnalis Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Peringatan 2 November bukan sekadar momentum untuk mengenang jurnalis yang menjadi korban kekerasan. Hari ini juga menjadi ajakan bagi pemerintah, aparat penegak hukum, perusahaan media, dan masyarakat untuk memperkuat perlindungan terhadap pekerja pers.
Penegakan hukum yang transparan, perlindungan terhadap jurnalis yang menghadapi ancaman, serta penghormatan terhadap kebebasan pers menjadi langkah penting untuk mencegah impunitas.
Pada akhirnya, melindungi jurnalis berarti melindungi hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Sebab, ketika jurnalis tidak dapat bekerja dengan aman, masyarakat juga berisiko kehilangan informasi yang dibutuhkan untuk memahami berbagai persoalan di sekitarnya.