Topikseru.com - Pemandangan laut yang tiba-tiba menyala biru terang pada malam hari mungkin terlihat seperti adegan dalam film fantasi. Ombak yang pecah di tepi pantai memunculkan cahaya kebiruan, sementara jejak perahu yang bergerak di permukaan air tampak seperti garis neon.
Fenomena alam ini benar-benar terjadi dan dikenal dengan istilah bioluminescence atau bioluminesensi.
Menariknya, cahaya biru tersebut bukan berasal dari pantulan lampu kota, bahan kimia, maupun air laut yang berubah menjadi zat bercahaya. Fenomena ini justru dihasilkan oleh organisme laut berukuran sangat kecil yang mampu memproduksi cahaya sendiri.
Lantas, bagaimana makhluk mikroskopis bisa membuat permukaan laut terlihat seperti dipenuhi cahaya biru?
1. Cahaya Biru Berasal dari Organisme Mikroskopis
Salah satu penyebab utama fenomena laut bercahaya adalah organisme bersel satu bernama dinoflagellata.
Organisme ini termasuk kelompok plankton yang hidup melayang di perairan. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan jelas menggunakan mata telanjang.
Namun, ketika jumlahnya cukup banyak dan kondisi lingkungan mendukung, dinoflagellata dapat membuat permukaan laut terlihat bercahaya pada malam hari.
Cahaya tersebut biasanya muncul ketika air mengalami gangguan atau pergerakan. Misalnya, saat ombak menghantam pantai, perahu melintas, atau seseorang menggerakkan air menggunakan tangan.
Ketika terpicu, organisme tersebut menghasilkan kilatan cahaya biru yang terlihat seperti percikan listrik di dalam air.
Menurut Smithsonian Ocean, beberapa jenis dinoflagellata mampu menghasilkan cahaya ketika mengalami rangsangan mekanis, seperti pergerakan ombak.
2. Bagaimana Organisme Kecil Bisa Menghasilkan Cahaya?
Kemampuan menghasilkan cahaya sendiri disebut bioluminesensi.
Fenomena ini terjadi melalui reaksi kimia di dalam organisme hidup. Salah satu mekanismenya melibatkan senyawa bernama luciferin dan enzim luciferase yang bereaksi dengan oksigen.
Reaksi tersebut melepaskan energi dalam bentuk cahaya.
Pada organisme laut, cahaya yang dihasilkan umumnya berwarna biru hingga biru kehijauan.
Warna tersebut bukan tanpa alasan. Cahaya biru memiliki panjang gelombang yang dapat merambat lebih jauh di dalam air dibandingkan sebagian besar warna lainnya.
Karena itu, warna biru menjadi salah satu bentuk cahaya yang paling umum ditemukan pada organisme bercahaya di lingkungan laut.
3. Mengapa Laut Justru Menyala Saat Malam Hari?
Fenomena bioluminesensi sebenarnya tidak hanya terjadi pada malam hari. Sejumlah organisme laut dapat menghasilkan cahaya ketika mendapatkan rangsangan, tetapi cahaya tersebut jauh lebih mudah terlihat saat kondisi sekitar gelap.
Beberapa spesies dinoflagellata juga memiliki ritme biologis harian yang membuat aktivitas bioluminesensinya lebih kuat pada malam hari.
Ketika matahari terbenam, kilatan cahaya dari organisme tersebut menjadi lebih jelas karena tidak bersaing dengan cahaya matahari.
Itulah sebabnya pantai tertentu bisa terlihat seperti memiliki ombak bercahaya ketika malam tiba.
4. Cahaya Biru Ternyata Menjadi Mekanisme Pertahanan
Hal menarik lainnya, organisme laut tidak menghasilkan cahaya hanya untuk menciptakan pemandangan indah.
Bioluminesensi memiliki sejumlah fungsi biologis, termasuk membantu organisme menghindari predator.
Pada dinoflagellata, salah satu dugaan ilmiah adalah kilatan cahaya dapat mengejutkan predator kecil yang mendekatinya.
Cahaya tersebut juga berpotensi menarik perhatian predator yang lebih besar untuk memangsa hewan yang sedang menyerang dinoflagellata.
Dengan demikian, organisme kecil tersebut memiliki kesempatan untuk meloloskan diri.
Namun, para ilmuwan masih meneliti secara mendalam fungsi bioluminesensi karena mekanismenya dapat berbeda pada setiap spesies.
5. Fenomena Laut Bercahaya Bisa Terjadi di Berbagai Negara
Fenomena laut bercahaya pernah ditemukan di berbagai wilayah dunia.
Salah satu lokasi yang terkenal adalah Mosquito Bay di Pulau Vieques, Puerto Rico. Perairan ini dikenal memiliki populasi dinoflagellata bercahaya yang membuat air terlihat seperti dipenuhi bintang ketika malam hari.
Fenomena serupa juga pernah terlihat di sejumlah wilayah pesisir California, Amerika Serikat.
Menurut Scripps Institution of Oceanography, dinoflagellata tertentu dapat membuat ombak di pesisir California memancarkan cahaya biru neon ketika air terganggu oleh gerakan.
Perahu, peselancar, bahkan hewan laut yang berenang dapat meninggalkan jejak cahaya di permukaan air.
Meski begitu, fenomena ini tidak selalu muncul setiap malam. Kemunculannya bergantung pada jenis organisme, jumlah populasi, kondisi lingkungan, dan faktor perairan lainnya.
6. Apakah Laut yang Menyala Biru Selalu Aman?
Meskipun terlihat indah, laut yang bercahaya tidak selalu menandakan kondisi perairan aman.
Beberapa jenis dinoflagellata dapat menghasilkan racun yang berbahaya bagi organisme laut maupun manusia.
Sebagian spesies yang menyebabkan fenomena bioluminesensi juga berkaitan dengan kelompok organisme yang dapat memicu ledakan populasi alga atau algal bloom.
Contohnya, beberapa spesies Alexandrium menghasilkan saxitoxin, racun yang dapat terakumulasi dalam kerang dan menyebabkan keracunan apabila dikonsumsi manusia.
Karena itu, air laut yang terlihat bercahaya sebaiknya tidak langsung dianggap aman untuk disentuh, direnangi, atau digunakan sebagai tempat mengambil hasil laut.
Jika fenomena tersebut muncul bersamaan dengan peringatan kualitas air atau larangan panen kerang dari otoritas setempat, masyarakat perlu mengikuti imbauan tersebut.